Pages

Subscribe:

Labels

Mengenai Saya

Foto saya
bogor, jawa barat, Indonesia
Aku ada dalam prasangka hambaKu Hadits Qudsi

Jumat, 09 Desember 2011

Keterputusan; Hijrah dan Kuatnya Hubungan Darah pada Masyarakat Arab

Ada perbedaan signifikan antara Islam dan Nasrani dalam menentukan tahun pertama dalam kalender. nasrani menetapkan tahun pertama kalendernya berdasarkan kelahiran Yesus (Isa) yaitu 2011 tahun yang lalu. sedangkan Islam menetapkan tahun pertama kalendernya berdasarkan peristiwa Hijrah. Suatu peristiwa menarik untuk diceritakan kembali dimana terjadi perdebatan yang panas antara Umar Bin Khatab dengan Bilal Bin Rabbah tentang kriteria penetapan tahun awal kalender. saat itu Bilal menginginkan berdasarkan kelahiran nabi Muhammad dengan alasan hal yang sama dilakukan oleh Nasrani untuk menghormati Yesus, maka untuk menghormati Muhammad, Bilal mengusulkan agar hari kelahiran Beliau diperingati sebagai tahun pertama dalam kalender Islam.
Hal itu tentu saja ditentang oleh Umar Bin Khattab, sahabat yang sangat kritis dan bijak. menurut Umar, selain mengikuti jejak Umat Nasrani (Tidak kreatif), ada beberapa alasan yang sangat mendasar. yang pertama, hal tersebut akan menjadikan Muhammad sebagai kultus. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi umat Islam yang sangat ditekankan untuk ber tauhid. kedua, peristiwa kelahiran merupakan sesuatu yang terberi (given) sesuatu yang kita terima apa adanya bukan sebuah prestasi (achievement) sebuah pencapaian yang membutuhkan usaha, perjuangan, dan pengorbanan. jadi Umar mengusulkan Hijrah sebagai tahun awal kalender, maka kini kita kenal dengan tahun hijriah atau hijrah.
Yang saya bahas adalah, mengapa peristiwa hijrah merupakan peristiwa yang sangat dramatis bagi bangsa Arab.
Saya akan mulai dari bagaimana kehidupan awal bangsa arab di padang pasir. Padang pasir merupakan kehidupan yang sangat keras. karena hanya sebagian wilayah padang pasir yang subur, kehidupan nomaden lah yang dijalani oleh sebagian besar suku-suku bangsa Arab. Bangsa-bangsa Arab di Hijaz dan Najd yang nomaden dan mereka terus menerus terlibat dalam peperangan. Kahdupan nomad selalu genting dan kurang gizi. dan disaat itulah suku-suku bangsa Arab mengembangkan etos-etos kehidupan untuk menghadapi kehidupan yang menurut Karen Armstrong nyaris mustahil.
Mereka sering bersaing satu sama lain, berperang dan saling merampok satu sama lain. etos yang dikembangkan utnuk menghadapi tantangan itu adalah dengan hidup selalu berkelompok. tidak ada kesempatan bagi tercerai dari kelompoknya. kelompok tersebut dibangun berdasarkan pertalian darah dan keluarga. Mereka menanamkan kesetiaan absolut pada kelompok, suku, kaumnya. karena suku-suku yang kuat dan disegani oleh musuh adalah mereka yang mampu melindungi anggota kelompoknya. untuk menanamkan semangat ini, bangsa Arab mengembangkan ideologi yang disebut Muru'ah. Disebut juga kejantanan, tetapi lebih dari itu muru'ah lebih menekankan makna tanggung jawab, kehormatan yang harus dijunjung tinggi seorang kepala suku bagi sukunya. seorang kepala suku harus melindungi, membalas dendam jika anggota sukunya diganggu oleh suku musuhnya. dia juga berarti kedermawanan, dimana dia harus menyantuni sukunya yang kekurangan, dan berusaha memeratakan kesejahteraan diantara anggota sukunya.
Dari gambaran sekilas ini dapat kita lihat begitu tertanamnya kecintaan seorang Arab terhadap hubungan darah dan keluarga. Jika hal itu benar, maka pantaslah jika Umar Bin Khattab mengenang Hijrah sebagai peristiwa yang besar dan penuh pengorbanan. Hijrah juga bermakna keterputusan. Keterputusan dari ikatan darah dan keluarga, ikatan ekonomi, ikatan sosial, budaya, politik.
Hijrah juga melambangkan sebuah peralihan dramatis perjuangan umat Islam dalam menerima nilai-nilai baru yang akan menggantikan nilai-nilai lama. Hubungan darah dan keluarga kini digantikan dengan nilai persaudaraan dalam iman. sesuatu yang sulit bagi masyarakat jahiliah.
sekian

0 komentar:

Posting Komentar