Pages

Subscribe:

Labels

Mengenai Saya

Foto saya
bogor, jawa barat, Indonesia
Aku ada dalam prasangka hambaKu Hadits Qudsi

Senin, 30 Januari 2012

Meng Esa kan Tuhan

pertama kali membuka penjelasan tentang sila pertama Panca Sila saya mengajukan pertanyaan kepada siswa kelas Tiga SMK. "siapakah Tuhan orang Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, Zoroaster, DLL?".
Saya sudah menyangka jawaban mereka bermacam-macam. inti jawaban mereka adalah bahwa setiap agama memiliki Tuhan.

"kalau begitu, Tuhan tidak Esa dong?" saya menggugat mereka. "tidak pak, Tuhan hanya satu yaitu Allah."tegas salah seorang siswa. "oke, berarti Tuhan orang kristen dengan Tuhan kita sama dong Allah SWT?"tentu saja mereka tidak menerima statemen saya dan sedikit marah. dan perdebatan tersebut berlangsung sengit dengan memakan waktu tambahan jam pelajaran saya.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan dalam cerita di atas tersebut.

yang pertama metode. Saya sengaja menggunakan metode dekonstruksi terlebih dahulu dalam menggugat keyakinan mereka dan mengoreksi banyak kesalah kaprahan, sesuatu yang salah dalam jangka waktu lama dan berulang-ulang sehingga dianggap sebagai kebenaran. Cara ini efektif untuk menantang siswa lebih interaktif dalam diskusi. pendekatan ini juga menarik, karena siswa bisa mengungkapkan pikirannya yang ternyata ada beberapa pemikiran yang salah dapat keluar.  selain itu siswa juga dilatih dengan pembelajaran hadap masalah. siswa akhirnya lebih kreatif dalam mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah. Dalam hal ini guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

point yang paling inti adalah bagaimana saya kemudian melakukan rekonstrusi pemikiran mereka terhadap isu-isu yang bagi mereka terlalu biasa menjadi lebih mendasar, kreatif, dan kritis. Pembelajaran atau menerangkan Panca Sila dianggap menjemukan bagi siswa, karena terlalu tekstual, pendekatan monoton, ceramah, dan perspektif yang selalu sama.

Pemikiran mendasar Sila pertama Panca sila adalah:
1. bahwa Tuhan itu Esa. Perbedaan dalam memahami Tuhan lah yang membuat manusia berbeda-beda. Tuhan maha esa, agama lah sebagai ekspresi manusia terhadap Tuhan yang beraneka ragam.
2. Toleransi. karena kita memahami universalitas Tuhan, maka kita tidak sempit dalam memahami Tuhan. karena Tuhan itu esa, menghina Tuhan orang lain sama dengan menghina Tuhan kita sendiri.
3. Harus ada pemisahan antara Tuhan dan agama. Tuhan itu ada pada dirinya sendiri (Hakikat) sementara agama adalah bentuk ekspresi manusia dalam mendekati Tuhan. tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan agamanya atau pemikirannya tentang Tuhan yang paling benar. sikap rendah hati adalah nilai yang dihasilkan dari orang yang beragama dan ber Tuhan yang maha esa.
4. Bagi masing-masing agama, menuhankan Tuhan yang esa adalah hal yang mutlak. Ini dimaksudkan bagi introspeksi internal agama, dan jangan sebaliknya. karena kalau digunakan dalam makna eksternal, kita akan menganggap Tuhan agama orang lain sebagai tidak esa.
pengesaan terhadap Tuhan bukanlah sebuah proses sekali jadi. Dalam ber Tuhan, manusia selalu digoda untuk menduakan Tuhan (musyrik) dengan yang lain. harta, benda, tahta, dan lainnya. Hal itu terjadi sepanjang hayat manusia.

Mengesakan Tuhan sangat penting sebagai sebuah landasan pemikiran yang paling mendasar. Kegagalan kita dalam memaknai keesaan Tuhan akan menggoncangkan sendi-sendi pemikiran yang lain yang bersifat lebiih teknis. Maka dari itu, pendidikan berkarakter mestinya harus dimulai dari keberanian guru untuk menggugat hal-hal mapan yang ada di masyarakat juga.
demikian semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar